Senin, 30 Mei 2011

Tidak Ada Dalil yang Mewajibkan Kaum Muslimin Mendirikan Negara?


Telah menjadi kesepakatan para ulama bahwa dlm memahami ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits nabi saw digunakan dua pendekatan.  Pertama, memahami pengertian secara tersurat, secara langsung dari lafazh-lafazh al-Quran maupun as-Sunah.  Ini yg sering dikatakan sebagai pengertian secara harfiah.  Sedangkan para ulama menyebutnya sebagai manthûq.   Yakni pengertian tersurat, pengertian yg langsung dipahami dari lafazh (kata) atau dari bentuk lafazh yg terkandung dlm nash.  Kedua, pengertian secara tersirat.  Yaitu pengertian yg dipahami bukan dari lafazh atau bentuk lafazh secara langsung, tetapi dipahami melalui penafsiran secara logis dari petunjuk atau makna lafazh atau makna keseluruhan kalimat yg dinyatakan dlm nash.  Kita sering menyebutnya sebagai pengertian kontekstual.  Sedang para ulama menyebutnya dengan istilah mafhûm.  Makna ini merupakan akibat (konsekuensi) logis makna yg dipahami secara langsung dari lafazh.  Makna ini menjadi kelaziman makna lafazh secara langsung.  Artinya makna ini menjadi keharusan atau tuntutan makna lafazh.  Dan para ulama menyebutnya sebagai dalâlah al-iltizâm.  Dalâlah al-iltizâm ini dapat dibagi menjadi : dalâlah al-iqtidhâ’, dalâlah tanbîh wa al-imâ’, dalâlah isyârah dam dalâlah al-mafhûm yg terdiri dari mafhûm muwâfaqah dan mafhûm mukhâlafah (pengertian berkebalikan).   Namun perlu diingat bahwa pengambilan pengertian dari nash syara’ baik secara manthuq maupun secara mafhum tidak boleh keluar dari ketentuan pengambilan pengertian dlm bahasa arab.
Dengan menggunakan dua pendekatan ini maka kita akan mendapati bahwa al-Quran dan as-Sunnah serta didukung oleh Ijma’ Sahabat telah mewajibkan kita mendirikan pemerintahan atau negara.  Dalil-dalil serta penarikan argumentasi wajibnya kita mendirikan negara/pemerintahan itu adalah sebagai berikut :

Pertama, Allah Swt telah memerintahkan kita utk menaati ulil amri.  Allah Swt berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ
Hai orang-orang yg beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. (TQS. an-Nisâ’ [04]: 59)

Ibn Athiyah menyatakan bahawa ayat ini merupakan perintah utk menaati Allah, Rasul-Nya dan para penguasa.  Pendapat ini dipegang oleh jumhur ulama: Abu Hurairah, Ibn ‘Abbas, Ibn Zaid dan lain-lain.[1]

Lebih jauh ayat ini juga memerintahkan kita utk mewujudkan penguasa yg kita wajib mentaatinya.  Semua yg dinyatakan oleh Allah adalah benar.  Allah Swt juga tidak mungkin memerintahkan sesuatu yg tidak bisa atau tidak mungkin kita laksanakan.  Kewajiban menaati ulil amri itu akan bisa kita laksanakan jika sosok ulil amri itu wujud (ada).  Jika tidak ada, maka tidak bisa.  Padahal, itu adalah kewajiban dan tidak mungkin Allah salah memberikan kewajiban.  Maka sebagai konsekuensi kebenaran pernyataan Allah itu, maka sesuai ketentuan dalâlah al-iltizâm, perintah menaati ulil amri juga merupakan perintah mewujudkan ulil amri sehingga kewajiban itu bisa kita laksanakan.  Maka ayat tersebut juga bermakna, realisasikan atau angkatlah ulil amri diantara kalian dan taatilah ia.  yg dimaksud ulil amri dlm ayat ini adalah penguasa.

Kedua, Allah memerintahkan utk menerapkan syariat Islam.  Allah berfirman :
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ
Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’ân dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yg sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yg diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yg lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yg Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yg telah datang kepadamu. (TQS. al-Mâ’idah [05]: 48)
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ
dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yg diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yg telah diturunkan Allah kepadamu. (TQS. al-Mâ’idah [05]: 49)

Kedua ayat di atas secara tersurat memerintahkan Rasul utk menghukumi (memerintah) dengan apa yg diturunkan oleh Allah.  Kata mâ anzala Allâh, kata mâ ini merupakan lafazh umum makna ayat tersebut adalah hukumi (perintahlah) mereka sesuai dengan apa saja yg diturunkan oleh Allah kepadamu wahai Muhammad dan jangan kamu mengikuti yg lain.  Karena yg lain itu berasal dari hawa nafsu yg hanya akan menyebabkanmu menyimpang dari apa yg telah diturunkan Allah kepadamu.

Sekalipun mukhathab (orang yg diseru) secara langsung dlm ayat ini adalah Rasul, namun seruan ini juga merupakan seruan bagi kita, umat Rasul, karena kaedah syara’ mengatakan
[ خِطَابُ الرَّسُوْلِ خِطَابٌ ِلأُمَّتِهِ مَا لَمْ يَرِدْ دَلِيْلٌ يُخَصِّصُ بِهِ ]
Seruan kepada Rasul merupakan seruan kepada umatnya selama tidak datang dalil yg mengkhususkan kepadanya [2]

Sementara tidak ada satu dalil pun yg mengkhususkan seruan itu hanya bagi rasul.  Oleh karenanya, seruan dlm kedua ayat di atas juga merupakan seruan kepada kita.

Kemudian terhadap perintah di atas datang berbagai qarinah (indikasi) yg mengindikasikan bahwa perintah tersebut sifatnya adalah tegas.  Indikasi-indikasi tersebut adalah firman Allah :
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barangsiapa yg tidak menghukumi (memerintah) dengan apa-apa yg diturunkan oleh Allah maka ia termasuk orang-orang yg kafir (TQS. al-Mâ‘idah [05]: 44)
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Barangsiapa yg tidak menghukumi (memerintah) dengan apa-apa yg diturunkan oleh Allah maka ia termasuk orang-orang yg zalim (TQS. al-Mâ‘idah [05]: 45)
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Barangsiapa yg tidak menghukumi (memerintah) dengan apa-apa yg diturunkan oleh Allah maka ia termasuk orang-orang yg kafir (TQS. al-Mâ‘idah [05]: 47)

Disifatinya orang yg tidak menghukumi dengan apa yg diturunkan oleh Allah (syariat Islam) sebagai orang zalim, fasik atau kafir, menunjukkan adanya celaan atasnya.  Jika perintah melakukan sesuatu, lalu orang yg tidak melakukannya mendapat celaan, maka itu menunjukkan bahwa perintah tersebut sifatnya tegas yakni wajib.  Dengan demikian perintah Allah utk menghukumi manusia menggunakan apa-apa yg diturunkan oleh Allah yakni dengan syariat Islam adalah wajib.

Disamping itu banyak nash yg menjelaskan hukum-hukum rinci baik dlm masalah jihad, perang dan hubungan luar negeri; masalah pidana seperti hukum potong tangan bagi pencuri, qishash bagi pembunuh, jilid atau rajam bagi orang yg berzina, jilid bagi qadzaf (menuduh seseorang berzina dan tidak bisa mendatangkan empat orang saksi) dan sebagainya; hukum masalah muamalah semisal jual beli, utang piutang, pernikahan, waris, persengketaan harta, dan sebagainya.  Semua hukum itu wajib kita laksanakan.

Hukum-hukum itu tentu saja tidak bisa dilaksanakan secara individual.   Akan tetapi sudah menjadi pengetahuan bersama dan tidak ada satu orangpun yg memungkirinya, bahwa penerapan hukum-hukum itu hanya melalui institusi negara dan dilaksanakan oleh penguasa.  Jadi pelaksanaan berbagai kewajiban itu yaitu kewajiban menghukumi segala sesuatu dengan syariat Allah itu hanya akan sempur bisa kita laksanakan jika ada negara dan penguasa yg mengadopsi dan menerapkannya.  Berdasarkan kaedah
مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ اِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
Suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib [3]

Kewajiban menghukumi segala hal dengan syariat Islam tidak akan sempurna kecuali dengan adanya negara dan penguasa yg bertindak sebagai pelaksana (munaffidz), maka mewujudkan negara dan penguasa yg menerapkan syariat Islam itu menjadi wajib.

Dari sejumlah nash di atas menjadi jelas bahwa kita diperintahkan utk mendirikan negara dan mengangkat penguasa.  Hal itu merupakan kewajiban,  Juga jelas bahwa negara dan penguasa yg wajib kita wujudkan itu bukan sembarang negara dan sembarang penguasa.  Akan tetapi negara yg wajib kita wujudkan itu adalah negara yg menerapkan hukum-hukum Allah.  Karena pendirian negara itu adalah dlm rangka melaksanakan kewajiban menghukumi segala sesuai dengan hukum-hukum Allah.  Sedangkan penguasa yg wajib kita angkat melihat dari nash-nash diatas haruslah berasal dari kalangan kita yakni kaum muslim karena dlm QS. an-Nisa ayat 59 itu disebutkan minkum (dari kalian), sementara kalian yg dimaksud adalah kaum mukmin.  Dan sifat yg kedua adalah bahwa penguasa itu kita angkat utk menerapkan hukum-hukum Islam.  Karena ia kita angkat dlm rangka melaksanakan kewajiban menghukumi sesuai hukum Allah.  Semua ini menegaskan kepada kita bahwa metode satu-satunya utk menerapkan Islam secara total adalah negara (daulah).

=============
[1] Ibn ‘Athiyyah, al-Muharrir al-Wajîz, juz iv, hal. 158
[2] An-Nabhani, asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah juz III (ushul Fiqh), min Mansyûrât Hizb at-Tahrîr, Al-Quds. Cet. II hal. 242.
 [3] Imam Al-Ghazali, Al-Mustashfa min ‘Ilm-il Ushûl, juz 1 hal. 71; Al-Banani, Hâsyiyah al-Banâni, juz 1 hal. 193;

1 komentar:

  1. Ass,wr,wb.
    Tolong ditanggapi blog ini islamexpose.blogspot, karena telah menggoyahkan keislaman sy.
    Please help me :(

    BalasHapus

SUKA-SUKA ..

ASAL SOPAN.. ^_^